Selasa, 09 Februari 2010

Mandikan Aku, Bunda...

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan
memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya
sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang
akan digelutinya. ''Why not the best'', katanya selalu, mengutip seorang
mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di
Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih
memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat
pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat,
bertepatan dengan tuntasnya suaminya meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan
mereka.

Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif''
dan huruf terakhir ''ya'', Jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak
sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama
dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani
semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota
kekota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah
bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ''
Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala
sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan.
Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby
sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadwal Alif lewat telepon.

Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang
itu,tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang
naik pesawat terbang, dan
uang yang banyak.''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar
nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng
menjelang tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta
adik. Terkejutdengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya
kembali menagihp engertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan
untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini
''memahami'' orang tuanya.Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta
adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski
kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan,
tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka,
Rani menyapanya ''malaikat kecilku''. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir
saya. Meski kedua orangtuanya supersibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta.
Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak
dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan'', ujarnya penuh harap.
Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar.
Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan
mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau
mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian
menurut, meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini berulang sampai hampir
sepekan. ''Bunda, mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh,
Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa
pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk,
akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter.''Bu
dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency". Setengah
terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana
lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya. Rani,
ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock
berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandi kan
putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan
komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri. Dan siang itu, janji
Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif,
Bunda mandi kan Alif'', ucapnya lirih, ditengah jamaah yang sunyi. Satu
persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan
tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri
mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu,
berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan . Sama saja, aku di sebelahnya ataupun
di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan ?''

Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain.
Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya
kosong.''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar
dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.

Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu
hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih
tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri
kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih
mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan
tertelungkup diatasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi
jasad Alif.

Senja pun makin tua.-- Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi
menolong.-- Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan
kehilangan yang amat sangat.--

Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya
sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya.

Akan masih ada waktu "nanti" buat mereka jadi abaikan saja dulu.-- Sering
kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang
diterimanya tidak akan hilang.

Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap
akan ada.-- Pelajaran yang sangat berharga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar