Senin, 27 Desember 2010

Doa bagi Negeriku



Ketika senja mengendap

merapat di dekat bilikku

aku mendekap kelumit kain yang sudah lusuh

Kutatapi layar kaca itu

Satu demi satu saluran pengantar gambar

kulihat bumi seperti renta

sekejap meluap bah di Wasior Papua

menyusul Jakarta yang meronta-ronta kesesakan

seakan nafasnya akan berhenti

Tsunami dalam sekejap menelan bumi Mentawai

lalu Merapi menggeliat dan memuntahkan bara merah darah

serta abu yang menyesakkan

Mayat-mayat bergelimpangan

Para perempuan, orang-orang tua dan anak-anak tergolek lesu

pasrah dan tak berdaya

Para lelaki muda masih mencoba menunjukkan kesiagapannya menghadang gelagat alam

Aku terdiam

Aku terpana

Dan bulu-bulu kulitku perlahan berdiri

kugenggam telepon tuaku

dan kucari-cari nomor-nomor yang kukenali

di Papua, di Mentawai dan di Sleman

Lalu aku telepon mereka satu persatu

“Apa kabar kalian….kawan?

Apa kabar kalian saudaraku?

Apakah kalian baik-baik saja?”

Dan setiap kata “baik” yang kudengar selalu bersambut syukur

Dan setiap kata “mudah-mudahan” yang kudengar langsung bersambut pujian

Bahkan ketika mereka tak sempat menanyakan kondisi kamipun

kami ikhlaskan dengan segenap hati


Sesekali aku menggumam

mengucap doa yang terkadang tidak berarti

menyapa Sang Khalik, sembari ingin bertanya

mengapa Engkau memberi negeri kami “anugerah” yang masih harus diperah

Tetapi aku tidak berani menatap wajahNya

dan sepertinya Ia balik bertanya “Mana buktinya bahwa kalian percaya kepadaKu?”

Air hangat pelahan meleleh dipipi

dan aku hanya dapat berkata “Hanya doa kami inilah bukti bahwa kami percaya kepadaMu.

Kuatkanlah kami di negeri yang telah diwariskan oleh nenek moyang kami.

Kuatkanlah kami di dalam memerah “anugerah” yang telah Engkau limpahkan kepada kami.

Supaya kami semakin dewasa.

Supaya kami semakin bijaksana.

Supaya kami semakin percaya, bahwa kami bukan apa-apa di hadapanMu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar